Nasib Menjadi Seorang Introvert

Jujur, aku akui kalau aku seseorang yang pendiam. Terutama untuk orang-orang baru. Aku lebih antusias apabila ada orang yang terus-terusan mancing aku untuk ngomong. Misalnya kayak nyapa duluan atau membuka topik pembicaraan pertama lebih dulu. Terkadang merasa geram melihat mereka yang tidak mengenalku, berpendapat buruk tentang diriku. Beranggapan kalau aku memanglah seorang yang seperti mereka pikirkan. Ataupun yang seperti orang lain ceritakan. Aku dulu banyak menemukan lingkaran pertemanan yang terlalu mengada-ada. Senyum di depanmu belum tentu mereka menyukaimu. Rambut sama hitam hati siapa yang tahu. Sifat manusia itu penuh tanda tanya, sulit ditebak, hari ini bilang “A”, besok bilang “B”, tergantung keadaan dan kenyamanan mereka, tergantung itu menguntungkan atau bahkan menjadi jurang buat mereka, ngak jelas lah pokoknya. Aku juga lebih menutup diri untuk siapapun, sangat jarang seseorang bisa dekat denganku (bukan berarti tidak pernah), begitu pula sebaliknya. Apalagi dengan orang baru, aku bukan tipikal orang yang ekspresif yang suka tampil bebas, lompat sana sini nge-stand up komedi di depan publik dan yang tampil selengean sana-sini seakan dunia hanya berputar untuknya (merasa hebat madsudku). Dan entah kenapa manusia pada suka dengan orang yang seperti itu (Orang Indo sih kebanyakan). Bukan jaga image atau jaim, tapi memang inilah aku apa adanya. Bisa dibilang aku tidak dekat dengan siapapun. Lingkaran tempat aku bebas mengekspresikan diri hanya ada dalam keluarga dan 3 sahabat sewaktu SMA (butuh 4 tahun buat dapat mereka). Mungkin aku sudah dianggap sebagai sosok aneh bagi dunia. Tapi biarlah, aku sudah biasa menjadi sosok introvert yang mungkin langka di kalangan manusia.
Aku paling nggak suka jadi pusat perhatian atau menjadi perhatian orang lain, itu bikin aku nggak nyaman, nggak nyaman dalam arti energiku seakan habis ditelan bumi. Jadi, aku selalu berusaha menjauh dari yang namanya keramaian
Advertisements

Seni Imajinasi

Pelangi dan Imajinasi

Sumber gambar milik pribadi ©®

Writing is not about potency and how smart you are but writing is about how imagination and creativity works in our mind”.

Secara pribadi saya sebagai salah satu pecinta sastra sangat setuju dengan argumen tersebut, karena saya juga merasakan hal yang sama. Argumen tersebut juga sesuai dengan alasan saya suka terhadap baca dan tulis karya, yaitu ketika saya melihat sesuatu, merasakan sesuatu atau menemukan hal-hal baru saya lebih tertarik untuk menuangkan imajinasi-imajinasi itu dalam bentuk karya, entah itu cerpen, puisi atau sebuah lukisan dan itu tentu saja dapat menjadi karya yang dinikmati setiap orang bahkan saya sendiri.

Imajinasi setiap orang di bumi sangat berbeda-beda, karena setiap orang punya pemikiran dan tingkat khayalan yang berbeda-beda misalnya ada seorang arsitek yang berimajinasi membuat sebuah gedung di atas langit, melayang layaknya tanpa gravitasi dan seorang ilmuan yang berimajinasi menciptakan gen baru bagi hewan agar dapat berkomunikasi dengan manusia maupun sesamanya. Dalam berimajinasi arsitek dan ilmuan tersebut tidak harus mewujudkan imajinasinya karena dengan berimajinasi saja sudah menciptakan kepuasan tersendiri bagi setiap orang, itulah perbedaan antara ilmu dan imajinasi kalau ilmu pengetahuan bisa dibilang terbatas, tetapi imajinasi tak ada ada ujungnya. Begitu juga dalam menulis anda tidak harus pintar atau terlalu pintar cukup dengan berimajinasi maka dengan otomatis akan terbentukalah kreativitas dan kiat-kiat cerdas anda dalam menulis. Seperti kata Einsten “The imagination is more important than any knowledge. “ artinya “Imajinasi itu lebih penting dari pada pengetahuan apapun.”

Motivasi terbesar setiap orang dalam menulis berbeda-beda, langkah-langkah juga berbeda akan tetapi hanya satu yang sama dalam menulis yaitu semu berawal dari imajinasi yang disertai inspirasi.

Kita tidak perlu menjadi pintar dalam menulis, cukuplah dengan memliki imajinasi bahkan bukan hanya dengan menulis, pekerjaan apapun kalau anda melakukannya atas imajinasi anda sendiri pasti memberikan pelangi tersendiri bagi setiap orang. Berwarna-warni di alam pikiran anda dengan begitu menulis bukanlah sulit, tidak harus terikat oleh teknik-teknik tertentu seperti soal matematika yang hanya dapat dikerjakan oleh rumus tertentu, menulis tidaklah beban pikiran melainkan menjadi keindahan tersendiri bagi setiap orang terutama penulis.

Kesimpulannya, perlu diingat bahwa kemampuan menulis dapat menciptakan peristiwa besar di dalam otak kita, termasuk juga dengan kemampuan pola pikir yang semakin kreatif dan imajinatif. Dimana anda bisa mengekspresikan diri anda dalam bentuk karya yang dapat dinikmati oleh orang lain terutama anda sendiri, meskipun hanya imajinasi tapi ide-ide menulis ada karena kita memiliki imajinasi yang tiada batasnya, maka dari itu menulislah dari imajinasi dan secara tidak langsung ide, keahlian, kreativitas dalam menulis akan muncul sebagai talenta , karena seni tidak menciptakan yang terlihat tetapi membuat yang tidak terlihat menjadi kelihatan”paul klee- . Jadi Menulislah dari imajinasi.